Logo

Al-Munawwar

Logo

Sejarah dan Profil Al-Munawwar

Mengenal lebih dekat Al-Munawwar, sejarah perjalanan kami, visi misi, dan jajaran pimpinan yang berdedikasi membangun masa depan.

history Sejarah

Perjalanan Panjang Membangun Generasi

Berangkat dari Keprihatinan

Saat itu, sekitar tahun 1985, di Desa Kunci hanya terdapat dua Musholla (tempat untuk sholat). Masjid yang ada juga masih seadanya, bangunan panggung dan belum dibangun permanen seperti sekarang.

Berawal dari cita-cita yang besar dan keprihatinan karena di Desa Kunci mencari santri sangat sulit, maka Mbah Munawwar yang saat itu seorang modin (pembina agama di Desa) sering berkeliling Desa Kunci untuk mengimami do’a, sehingga masyarakat setempat mempunyai keyakinan kalau belum dido’akan Mbah Munawwar maka do’anya kurang afdol. Bahkan pada bulan puasa, pernah tiga hari tiga malam tidak pulang karena terlalu sibuk berkeliling untuk menjadi imam do’a. beliau tidak pulang, namun hanya nasi berkat saja yang diantar sampai rumah.

Kakak-Beradik Mondok

Berdasarkan keprihatinan tersebut, maka Mbah Munawwar menyekolahkan Mbah Yai Tsabit dan Mbah Yai Bardam ke MTs Al-Rosyid Kendal, kemudian memondokkan Mbah Yai Tsabit (kakak) ke Laju, sedangkan Mbah Yai Bardam (adik) ke Tebu Ireng. Kakak-beradik Mondok dalam rangka mengamalkan QS. At-Taubah Ayat 122 :


Artinya :

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara meraka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”

Berdasarkan ayat tersebut, maka hendaknya di suatu kelompok/kaum/masyarakat ada yang mencari ilmu, mereka akan menjadi pendakwah, menakuti, memberikan peringatan kepada kaumnya.

Melalui kedua putranya tersebut, Mbah Munawwar menaruh harapan yang besar agar kelak mampu memberi manfaat yang besar bagi masyarakat, mengajak kepada kebaikan dan taat dalam beragama Islam.

Sepulang dari mondok, K. Bardam Abd. Nasir muda mulai menjalankan dakwah di Desa Kunci, mengajak masyarakat untuk mengaji dan mendirikan sholat lima waktu, beliau mendirikan jama’ah tahlil dan hal itu mulai mendapat sambutan yang baik dari masyarakat.

Revolusi Musholla

Pada tahun 1987 terjadi revolusi musholla dengan dibangunnya 16 musholla. Revolusi ini merupakan jawaban atas kurangnya jumlah musholla yang ada di Desa Kunci. Musholla-musholla tersebut tersebar di 21 RT di seluruh desa Kunci. Banyak musholla yang berdiri namun saat itu kyai yang menjadi imam belum begitu sempurna keilmuannya. Tapi itu bukanlah suatu masalah serius yang penting mau mengaji dan belajar.

Setahun kemudian pada tahun 1988 mengadakan diba’ keliling antar musholla ke musholla sampai musholla penuh sesak dengan masyarakat sekitar.

Belajar Menuntut Ilmu

Pada tahun 1988, Kyai Bardam belajar ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab / Arabic and Islamic University (LIPIA) Jakarta sampai tahun 1990, kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya yang ada di Bojonegoro. Beliau juga ke Jakarta memperoleh beasiswa dari Rajafat Arab Saudi.

Ilmu yang diperoleh semasa mondok diajarkan kepada masyarakat sekitar. Pertama kali mengajar santri di Masjid Kunci dan ternyata mendapat murid yang sangat banyak, melihat potensi yang bagus, maka setelah sholat isya’ santri yang ngaji diajak ngaji lagi, diantaranya adalah kitab taqrib, bulugul marom dll. Tapi hal itu tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Mereka waktu itu beranggapan habis Isya’ adalah waktunya anak belajar mengerjakan tugas (PR) dan khawatir nanti anaknya jadi bodoh. Padahal jika dicermati saat itu yang mendapat beasiswa di seluruh desa Kunci adalah semuanya berasal dari santri masjid yang ikut ngaji.

Setelah kejadian tersebut, maka K. Bardam bermusyawarah dengan kakaknya yaitu K. Tsabit dan menghasilkan keputusan agar K. Bardam mendirikan Pondok Pesantren supaya bebas mengelola santri sewaktu-waktu bisa karena sudah wilayahnya sendiri.

Rencana awal, Pondok Pesantren akan didirikan dekat rumah, akan tetapi karena keterbatasan lahan, maka berdasarkan Istikhoroh, hasilnya mengarah ke sini (yang saat ini ditempati). Tanah tersebut adalah tanah milik dari ibu Mardinah binti Marhum (Ibunda K. Bardam)

Puthuk Santri

Lahan yang digunakan untuk membangun pondok, dulu dikenal masyarakat dengan nama “Puthuk Munawwar”. Puthuk adalah tempat yang tinggi, dan Munawwar adalah nama dari pemilik lahan yaitu Mbah Munawwar (suami Ibu Mardinah / Ayahanda K. Bardam). Puthuk Munawwar adalah tempat yang tertinggi di Desa Kunci.

Alkisah ada seorang sakti yang tersohor sampai keluar daerah bernama Mbah Kasih. Beliau adalah seorang ahli tirakat, tidak pernah makan nasi karena kalau makan nasi pasti muntah. Mbah Kasih adalah orang yang maqomnya sudah mencapai Mukhasyafah, bisa tahu apa yang belum terjadi.

Suatu ketika saat Mbah Munawwar mencangkul di sawah, menanam kedelai, menanam jagung, beliau didekati oleh Mbah Kasih dan berkata bahwa Puthuk ini adalah Puthuk Santri. Kalau memukul batu seperti pasar malam. Tapi itu terjadi nanti bersamaan dengan dibangunnya rel kereta di atas, sebelah selatan Puthuk tadi.

Pada saat akan menempuh pendidikan ke Jakarta, Puthuk Santri pernah akan dijual karena tidak adanya biaya pendidikan. Saat itu ditawarkan kepada tetangga namun ditawar murah, dan pada akhirnya tidak jadi dijual.

Perjuangan Mendirikan Pondok

Tepat seperti apa yang telah disampaikan Mbah Kasih, pada tahun 1995 bertepatan dengan dibangunnya SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), Pondok Pesantren Al-Munawwar berdiri.

Awal pendirian Pondok Pesantren, K. Bardam Abd. Nasir muda mendapat gemblengan dari seorang Kyai, Kyai tersebut mengarahkan agar tidak usah bercita-cita menjadi PNS, namun harus menjadi generasi penerus para Kyai untuk menekuni jalan dakwah. Setelah membulatkan tekad, maka beliau mulai melaksanakan riyadhoh untuk memohon bimbingan dan mendapat petunjuk dari yang maha kuasa agar Pondok Pesantren yang dibangun menjadi pusat perkembangan Islam se Republik Indonesia.

Riyadhoh yang dijalani tidak sia-sia, Pondok Pesantren berhasil didirikan secara resmi dengan nama AL-MUNAWWAR. Nama tersebut diambil dari nama ayahanda yaitu Mbah Munawwar sekaligus menjadi tanda bakti kepada orang tua, terlebih lagi karena dahulu lokasi pondok yang dulu dikenal dengan nama Puthuk Munawwar.

Ponpes Al-Munawwar didirikan dengan dilandasi keinginan untuk menjadi tiang penyangga bagi Bojonegoro. Kalau di daerah kota sudah ada Ponpes Al-Rosyid, Ponpes Abu Darrin, Ponpes Adnan Al-Charish dll, maka Al-Munawwar akan menjadi penyangga di bagian selatan supaya Bojonegoro menjadi kabupaten yang Agamis.

Sambung ke K.H. Hasyim Ashari

Setelah pondok berdiri, maka keberadaan Ponpes Al-Munawwar disambungkan dengan Hadrotus syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng – Jombang, sang maha guru di Indonesia. Pernah suatu ketika Mbah Yai Bardam mengajak tujuh orang santri Al-Munawwar ke maqbaroh Hadrotussaikh Hasyim Asy’ari Tebu Ireng, saat itu ada salah satu santri Al-Munawwar bermimpi dengan Mbah Hasyim, beliau datang dengan menaiki kerbau, berkeliling area pondok sambil menabur air. Maka diyakini bahwa Pondok Pesantren Al-Munawwar akan barokah ila yaumil qiyamah, karena telah ditaburi air oleh KH. Hasyim Ashy’ari.

Barokah Kyai dan Wali

Pernah suatu ketika saat masih muda dan belum percaya diri dengan keilmuannya, K. Bardam masih gamang dengan kemampuannya, namun berkat dorongan sang Kyai tersebut, maka K. Bardam meneguhkan tekat untuk menjadi penerus generasi ulama. Dan dengan bimbingan dan pengawasan langsung oleh sang Kyai tersebut, K. Bardam diajarkan dzikir dan ilmu agama lebih dalam sampai akhirnya berhasil mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwar

Pernah juga ada seorang waliyullah Mbah Muslim Rifa’i. Beliau adalah gurunya Gus Dur, jika berkunjung ke Jawa Timur, beliau pasti mampir ke Al-Munawwar. Mbah Lim berasal dari Klaten dan hanya mempunyai seorang murid yaitu Gus Dur. Pernah suatu ketika Mbah Lim mengajak untuk berdo’a bermunajat kepada Allah SWT. Bekas tempat beliau berdo’a tersebut sampai sekarang masih ada dan didirikan bangunan Ka’bah. Tempat tersebut adalah kenangan bersejarah yang mulia, maka harus terjaga agar tidak sembarangan terinjak orang terutama yang tidak punyai wudlu. Tempat tersebut semoga kemuliaannya tetap dijaga ila yaumil qiyamah

Visi & Misi

Landasan utama kami dalam memberikan pendidikan terbaik.

visibility

Visi

"MENJADI PUSAT PERKEMBANGAN ISLAM SE - RI"

target

Misi

  • check Mengupayakan regenerasi Sumber Daya Manusia yang berakhlakul karimah, tasamuh, tawassuth, dan tawazun
  • check Membela hubungan baik dengan lembaga-lembaga lain dalam rangka menyatukan visi bersama untuk membangun dan melestarikan peradaban Islam di Nusantara
  • check Berperan aktif dalam setiap upaya peningkatan dakwah Islam sesuai dengan tuntunan Ahlussunnah wal Jama'ah
  • check Menggelorakan Islam Moderat untuk memperkuat kebangsaan dan dinamika keagamaan di Indonesia
  • check Menjadi yang terdepan dalam upaya kemajuan dan syiar Ahlussunnah wal Jama'ah

Jajaran Pimpinan

Tim penggerak kemajuan Al-Munawwar.

Dwi Handayani, S.Pd., M.Pd

Dwi Handayani, S.Pd., M.Pd

Kepala Madrasah Aliyah

Winarji, S.H.I

Winarji, S.H.I

Kepala Madrasah Tsanawiyah

M. Khusnul Huda, S.Pd.I

M. Khusnul Huda, S.Pd.I

Kepala Madrasah Ibtidaiyah

Lely Setyorini, S.Pd.

Lely Setyorini, S.Pd.

Kepala Taman Kanak-Kanak

Siti Laelatul Muniroh, S.Pd.

Siti Laelatul Muniroh, S.Pd.

Kepala Kelompok bermain